Teman- temen seperjuanaganku
mungkin dah sering naek gunung ya, nah sekarang aku mo coba menggambarkan
beberapa gunung yg pernah aku daki, yang pernah aku pipis- i hehehe,
- SINDORO
Sindoro merupakan gunung pertama
yang aku daki, walopun ahirnya aku naik gunung ini sebanyak 4-5 kali ( lupa,
kayaknya sich 5 kali).Gunung setinggi 3100 sekian meter ini mempunyai 2 jalur
pendakian, salah satunya dari desa tarakan kabupaten Temanggung. Dari Semarang
bisa di tempuh dengan menggunakan bus sekitar 2-3 Jam perjalanan, sedangkan
dari Purwokerto sekitar 4-5 jam perjalanan. Base Camp pendakian pun lumayan dekat dengan
jalur pendakian maupun tempat pemberhentian bus. Bahkan di tempat sebelum masuk
ke base camp sudah di sediakan halte bus, walopun kondisinya sudah agak rusak. Penduduk sekitar
pun baik hati, pernah suatu ketika kami lupa membawa nasting ketika naik gunung
ini, ga kebayang kan semua sudah
siap kecuali nasting? Bagaimana mungkin kami bisa memasak bahan makanan di atas
sana??? O iya bagi yg belom tahu
nasting itu adalah panci tempat kami biasa memasak bahan makanan ketika berada
di atas gunung atau di alam, nesting ini sebenarnya adalah sebuah perlengkapan
militer, namun sudah banyak di dapatkan di toko2 perlengkapan, seperti eiger
dan lain sebagainya. Ahirnya ketika
turun dari bus kami berbarengan dengan beberapa orang penduduk asli sana,
setelah kami menceritakan masalah kami, ahirnya mereka mengajak kami ke
rumahnya. Disana kami di buatkan secangkir kopi hangat dan makanan ala
kadarnya. Tidak lupa pula kami di pinjamkan panci kecil. Sungguh baik untuk
orang yang sama sekali tidak mengenal kami, bahkan mereka menolak ketika kami
bermaksud meninggalkan jaminan untuk barang yang kami pinjam. Mereka hanya
tersenyum sambil berkata kalaupun kami bermaksud mengembalikan barang ini,
mereka dengan senang hati bakal menerimanya dan kalau kami mengambilnya mereka
mengiklas-kannya. Sungguh di zaman sekarang ini masih ada orang sebaik mereka.
Jalur yang harus di lalui untuk
dapat sampai ke puncak gunung ini tidak terlalu terjal untuk ukuran pendakian sebuah
gunung. Pertama-tama kita harus melalui perkebunan sayur-sayuran milik penduduk
desa, jika kita naik gunung ini sekitar bulan januari sampai mei mungkin kita
akan menjumpai tanaman kool di kanan kiri kita, namun untuk bulan selain ini,
mungkin kita bakal menemukan tanaman jagung atau sejenisnya hidup di ladang
mereka. Selanjutnya setelah perkebunan kita akan melalui jalur yang di penuhi
semak disekitar kanan kiri kita, jalan setapak yang kita lalui mulai agak naik.
Jalur ini akan kita lalui sampai menjelang pos I, Pos I adalah tanah kosong
tempat kami mendirikan tenda darurat untuk sekedar beristirahat sebelum
melanjutkan perjalanan. Setelah Pos I jalur pendakian langsung berubah drastis
menjadi lumayan terjal di kanan kiri kami hutan dengan beberapa pohon besar dan
semak2 di bawahnya. Sekitar 1-2 jam perjalanan kita akan menjumpai bekas hutan
yang terbakar, dimana di sebelah kanan jalan yang kita lalui kita akan
menemukan sebuah makam disana. Jika kita melanjutkan perjalanan kita lagi maka
kita akan sampai pada taman bunga abadi atau biasa di sebut edelwise, di gunung
ini merupakan salah satu gunung yang mempunyai taman edelwise yang sangat luas,
di sana hampir tidak kita jumpai
sebatang pohon pun yang lainnya. Kecuali sebatang pohon yang tumbuh disana.
Sekitar 20 menit lagi pendakian maka puncak sudah ada di depan mata. Di puncak
gunung ini bisa kita lihat kawah dari gunung sindoro yang sudah tidak aktif
lagi, jika musim penghujan maka kawah itu akan terisi air layaknya sebuah
danau, akan tetapi jika musim kemarau maka kawah akan kering terisi
batu-batuan. Menurut penduduk sekitar kadang-kadang untuk malam 1 shura
penanggalan jawa di puncak ini, ada yang jual bakso, jadi bakso peralatan yang
di perlukan sudah di bawa ke atas beberapa hari sebelum tangaal 1 shura,
tinggal bahan makannanya yang di bawa ketika hari “H” telah tiba. WOW ga
kebayang kan menikmati bakso di
puncak gunung?? Sayang aku belum pernah merasakannya.:(
Pengalaman pertamaku dengan
gunung ini dimulai pada tahun 1999 tepatnya sekitar bulan November, kebetulan
ada acara pendakian bersama di sekolah kami. Pendakian pertama ku ini bisa di
bilang berat dan menemui banyak kendala. Di awal pendakian sekitar jam 20:00 hujan gerimis sudah mulai turun membuat
badan kami sudah basah dengan air hujan di tambah lagi dinginnya udara malam
pegunungan. Minimnya pengetahuanku tentang pendakian gunung benar2 membuat ku
sengsara waktu itu, mungkin bagi teman2 yg pernah naik gunung bisa
merasakannya. Aku Cuma membawa sebuah tas ransel kecil berisi sebuah jacket, I
buah kaos, satu bungkus roti tawar sama satu gelas aqua botol kecil. Celana pun
aku memakai celana jeans. Sesuatu yang memang menjadi pantangan di udara
dingin, apalagi celana jeans yg ketat karena bakal melukai pangkal paha.
Malam itu jaketku sudah basah
dengan air hujan. Tapi kami masih terus berjalan. Sampai ahirnya tiba di pos I
pendakian sindoro sekitar pukul 00:00.
Disana kakak kelas mulai mendirikan tenda seadanya. Tempat kami berlindung dari
air hujan . setelah beristirahat sejenak sekitar pukul 1 dini hari kami
melanjutkan perjalanan kami kembali. Cuaca sudah mulai cerah, kami bisa melihat
lampu2 kota di bawah kami juga awan putih yang berarak di bawah kami, sungguh
serasa terbang, ketika memandang ke ataspun kami bisa melihat berjuta2 gugusan
bintang, sungguh sebuah keagungan Allah swt yang sangat aku syukuri saat itu.
Bahkan di sana seorang manusia
bakal merasa kecil dan terlalu sombong selama ini, padahal mereka tidak ada
artinya jika di banding dengan kekuasaan Allah. Dengan sisa2 tenaga kami
melanjutkan perjalanan menuju puncak, namun menjelang pagi sekitar pukul 2:30 kabut tebal mulai datang. Senter kami
layaknya sebuah pedang dalam film star wars karena kami dapat melihat jelas
berkas cahaya yang dihasilkan.tebalnya kabut juga membuat cahaya senter kamu
hanya sepanjang 7-10m. pandangan di depan pun hanya sebatas apa yang ada di
depan mata kami. Angin dingin yang kencang juga mulai berhembus, angin di atas
gunung berbeda dengan di bawah, angin di atas sini terdengar sangat kencang
dan menyeramkan bagi seorang pemula. Ahirnya sekitar pukul 3.pagi kami benar benar kelelahan. Dan memutuskan
untuk beristirahat. Kami tinggal berdua, entah yang lain pada kemana. Aku
bersama Agung beristirahat di belakang
sebuah batu besar, tubuh kami sudah beku. Bahkan untuk kencing pun aku minta bantuan
agung untuk menutup kembali resleting celana :p ( sensorrr ) hehehe. Ahirnya dengan lelah yang amat sangat aku
tertidur di belakang sebuah batu. Lumayan sekitar 30 menit aku dapat menutup mataku. Sampai aku
terbangun ketika beberapa rombongan pendaki lainnya menyapaku. Setelah bangun
rasa dingin itupun semakin menjadi amat sangat.aku bahkan tidak bisa merasakan
jari2 ku. Dan Aku sama Agung memutuskan untuk melanjutkan pendakian kami.
Sekitar pukul 4 : 00 pagi ahirnya
saya sudah berada di tempat yang cukup tinggi sehingga tempat tersebut sudah di
tumbuhi edelwise yang konon sang bunga abadi.
Sindoro merupakan salah satu
gunung yang tidak terlalu bagus dan tidak terlalu terjal untuk di daki, tapi
menjengkelkan, karena di depan seakan-akan nampak sebuah puncak bayangan,
dimana setiap pendaki melihat ke depan akan melihat seolah2 tanjakan terahir
adalah puncak akan tetapi ketika tanjakan tersebut berhasil di lalui maka akan
terlihat tanjakan berikutnya lagi, lagi dan lagi. Sehingga bagi orang yang
pertama kali naik pasti akan merasa sedikit putus asa dan bertanya “kapan
puncaknya??? “ padahal perjalanan masih jauh di depan J. Sekitar pukul 5 pagi
kabut tebal datang lebih banyak lagi. Aku sudah sampai di sekitar bekas hutan
yang terbakar. Di
sana kami menemukan
sebuah makam, konon katanya itu merupakan makam pendaki yang tewas di gunung
tersebut.
Setelah berjalan kembali beberapa
saat, karena kondisi alam yang tidak bersahabat kami berdua memutuskan untuk
kembali turun, padahal jika kami sudah berada di bawah taman edelwise, jika
kami melanjutakan berjalan terus mungkin sekitar 1,5 jam perjalanan dari tempat
kami sekarang mungkin sudah sampai di puncak. Perjalanan turun kami lalui
dengan perlahan karena rasa kantuk yang sedikit masih menempel di pelupuk mata,
juga rasa capai itu sendiri. Semakin siang cuaca sudah semakin membaik, kami
mulai bisa menikmati pemandangan alam di sekitar kami. Kiri kanan jalur
pendakian adalah hutan dengan pohon2 kecil dan semak semak. Sesekali kami
melihat beberapa ekor burung. Semakina siang semakin bagus pula pemandangan
yang kami saksikan, sungguh merupakan ke agungan Allah yang maha kuasa.
Sampai ditengah jalan aku coba
buka roti tawar yang aku bawa, tapi ternyata jamur dah tumbuh di
sana berwarna kehitam-hitaman. Finally aku hanya makan beberapa dan beberapa lagi
aku buang hehe
Di perjalanan kami mulai bertemu dengan pendaki2 lain yang melanjutkan
perjalanan ke puncak sementara kami berjalan turun.untuk pertama kalinya aku
merasa merupakan bagian dari mereka. Mereka ramah2 setiap berpas-pasan selalu
menyapa kami, demikian pula kami selalu menyapa mereka. Sesekali kita
berbincang sebentar, saling menanyakan asal dan nama. Di tengah perjalanan kami
mulai melirik batang2 bunga edelwise yang belum tua. Karena kami pemula dan ini
adalah pertama kalinya kami naik gunung, jadi antara rasa takut dan rasa ingin
memetik membayangi otak kami, Disamping rasa takut pula, katanya di bawah nanti
di base camp bakalan
di periksa, “welehhhh”
. Ahirnya kami mengambil juga beberapa tangkai bunga
edelwise yang belum mekar itu, beberapa di antara kami memasukkan bung aitu ke
dalam kaos kaki dan menyimpannay di tas cariier hehe bauuuuuuuuuuuuuuuu hehehehe : D
. setelah menikmati semuanya sekitar pukul 9 pagi kami sampai di post I lagi.
Disana kami beristirahat sambil menunggu teman-teman yang masih di atas,
soalnya beberapa teman yang mempunyai peralatan lengkap membuat tenda di atas,
dan meneruskan perjalanan sampai puncak.
Sekitar pukul 10:00 kami mendapatkan kabar kalau salah satu teman kami
yang putri mengalami kesurupan di sekitar hutan yang terbakar itu, suasana
spontan menjadi sedikit kacau dan panik utamanya saya yang baru kali ini
mendaki sebuah gunung. Ahirnya beberapa orang yang masih mempunyai sisa tenaga
kembali lagi ke atas termasuk saya, akan tetapi rupanya badanku dah terlalu
letih, ahirnya aku hanya sampe di tengah2 sambil menunggu teman2 dari atas,
sementara itu teman2 dari atas sebagian sudah mulai turun membawa tas carieer
teman2 yang me-mandu Dini (teman kami yg kesurupan). Ahirnya aku membantu
membawa barang2 tersebut sampai ke post I.Sementara itu hujan rintik2 mulai
turun. Setelah barang-barang di letakkan aku kembali ke atas, walopun ga sampe
tempat mereka aku cuma menunggu di tengah2. sekitar pukul satu siang teman2
dari atas mulai terdengar suaranya dan ahirnya kami menjumpainya. Ternyata
keadaan memang benar2 kacau, Dini di tandu dengan beberapa batang pohon dia di
ikat dengan beberapa ikat pinggang dan di bungkus ( weks di bungkus kok,
bahasanya yg tepat apa ya?? J ) dengan bebrapa sarung dan jacket. Tubuhnya teramat
sangat berat terasa, disamping memang anaknya agak gemuk, tapi yg ini benar2
berat, setiap satu orang hanya sanggung memandu sampai bebrapa m saja, di
samping rute terjal tentunya mempengaruhi. Ahirnya setelah bersusah payah pukul
2 siang Dini sudah bisa kami bawa sampai post I, disana kami membuat api unggun
dan semacamnya untuk menghangatkan.Sementar aitu Dini mulai berteriak-teriak menambah
suasana menjadi sedikit kacau. Kami menduga Dini terserang Hipotermia karena
suhu memang benar-benar dingin saat itu. Sekitar setengah Jam kemudian team SAR
ahirnya datang, dan menggantikan peralatan kami yang ala kadarnya dengan
peralatan yang mereka bawa.
Di tengah hujan deras yang
mengguyur kami ahirnya bergerak turun dari pos I, kakiku terasa perih karena
beberapa baru kecil masuk ke sepatuku,satu batu di keluarin satu lainnya masuk
dan begitu seterusnya sampe ahirnya saya biarkan saya bersemayam disana,
disamping memang sepatu yang aku pakai bukan sepatu untuk kondisi alam, tapi
sepatu indoor sport. Ternyata kakiku lecet di beberapa bagian. Sambil berjalan
kembali ke Base Camp inilah aku berkenalan dengan beberapa teman yang sebelumnya tidak pernah aku temui
sebelumnya atau aku belum tahu namanya, dan beberapa di antar mereka ahirnya
menjadi teman2 ku mendaki gunung-gunung yang lain maupun gunung ini di kemudian
waktu. Adzan magrib sudah selesai berkumandang ketika kami sampai kembali di
base camp. Kondisi kami sungguh “berantakan” aku juga ga tahu harus ganti
pakaian yang mana?? Karena memang Cuma bawa ganti sepotong kaos, disamping juga
basah karena guyuran hujan. Akan tetapi ahirnya aku meminjam teman yang
kebetulan tadi balik ke base camp
duluan karena kurang enak badan, jadi pakaiannya ga basah.
Ahirnya sekitar pukul 8 malam
kami bisa kembali ke Purwokerto city. Jam 00 :
00 lebih dikit bus yang kami tumpangi membawa kami sampai ke depan
pintu gerbang sekolah, sementara Dini masih harus tinggal di Base Camp untuk mendapatkan perawatan dari
warga sekitar. Malam itu air di kamar mandi kosan ku terasa hangat, mungkin
Karena habis berada di tempat yang bener2 dingin ya?? J . jadi klo bisanya jam
segitu aku ga mandi malam itu aku mandi sampe bersih. J. Kasur kami pun
rasanya nyaman banget ga seperti biasanya yang keras banget. Dan ahirnya kami
bisa tidur pulas tanpa terganggu oleh mimpi, sampai pagi harinya. Pagi itu kami
saling menertawakan ketika berangkat ke sekolah, kulit kami merah2, jadi kesannya
seperti pake “shadow” hehehehe J kebayang dech mirip bencong taman lawang hehehe :p
bahkan beberapa hari setelahnya kulit kami terkelupas, wah bener2 sebuah
pengalaman seru yang tak terlupakan.
Walopun hal itu mungkin cukup
menjadikan sebuah pengalaman pahit buat beberapa orang dan membuat mereka tidak
akan mengulanginya, lain halnya dengan diriku, aku justru mengulanginya sampai
beberapa kali dan ke beberapa gunung lainnya. Sindoro, gunung yg paling sebel
untuk aku Susuri jalur pendakiannya tapi memberikan beberapa kenangan manis di sana,
Salah satunya aku pernah numpang mobil pick up bekas buat bawa pupuk kandang ke
perkebunan, tahu kan klo bekas
isi pupuk kandang isinya apa?? Hehehe J karena ga siap kami yg
berdiri di bak belakang terjatuh, untung saja aku reflek megang pegangan yang
ada di belakang kabin depan jadi tetap berdiri sementara temanku terduduk manis
di atas “ sensor” hehehe ( inget kan ndunks?? ) hehehe :p~ Atau pernah juga musim kemarau kami naik sindoro,
kondisi jalan benar2 berdebu dan air yang kami bawa juga tinggal sedikit, air
itu kami pasrahkan sama teman kami yg cewe, namanya ndunks. Kayaknya dia ini
udah bener2 kecapaian jadi airnya di gelundungin dari atas baru dia turun
nyamperi. Dasar lagi sial ato gimana itu air nggelundung entah kemana
,
tanpa tunggu komando tangan kami langsung meluncur di atas kepalanya J,
sambil ngomel2 ga karuan hehehe
Yah bagaimana pun juga setiap
tempat memberikan sebuah kenangan tersendiri bagiku, ga tahu kenangan senang
atau sedih, tapi yang pasti semua kenangan adalah seru untuk aku lalui, dan
inilah bagian dari sebuah kehidupan. Hidup adalah sebuah perjuangan, perjuangan
untuk tetap bahagia, perjuangan untuk tetap menikmati segala derita, halah…..
bahasane mekso :p
inti dari cerita diatas, aku cuma pengen ngomong, klo gunung bukan tempat maen2, naik gunung memang terasa sangat gampang, tapi akan lebih baik kalo kita mempersiapkan semua nya sebelum kita menyesalinya. atau bahkan mungkin kita akan menjadi bagian dari sebuah cerita…
Next on
Merbabu>Sumbing>LAwu>Selok>Kalipagu>kalimanggis and many other
………………….we miss u guys ………………..Erwin Aris priaonggo…… in memorian……………………………………..